24 September 2008

Harapan

Benginikah Hidup?
penuh akan penantian
penuh kepenatan
penuh akan kehilangan

Aku sibuk berjalan
entah... berjalan dengan arah ataukah tidak?
aku disudut dunia binggung menunggu
menunggu dan menanti

yang ku tahu
aku mencarimu
Harapanku


Manusia dapat hidup 40 hari tanpa makan, sekitar 3 hari tanpa air, sekitar 8 menit tanpa udara, tapi hanya 1 detik tanpa harapan (Hal Lindsey)

17 September 2008

Sedekah... Oh Sedekah

"Senin 15 September 2008 merupaakan hari yang sangat mengembirakan, bagaimana tidak? seorang pengusaha dermawan memberikan sedekah sebesar Rp 30. 000,- per orang. sejak pagi sudah banyak oraang tua, muda bahkan anak-anak yang menunggu. tepat pukul 09.00wib pintu dibuka, satu demi satu mengambil uang yang sudah disediakan oleh sang dermawan. tetapi hal tersebut menjadi menggemparkan, pada pukul 12.00 wib hampir semua stasiun tv menayangkan mengenai kecelakaan yang merenggut 21 nyawa dikarenakan terinjak-injak dan kehabisan oksigen karena berdesak-desakan. haal tersebut terjadi dirumah sang dermawan yang membagiakan sedekah."

Sepenggal cerita diatas bukanlah cerikta fiksi dari novel atau karanggan penulis saja supaya pembaca mau membaca blog ini. Akan tetapi itu adaalah cerita nyata yang terjadi di Kota Pasuruan Jawa Timur. Sungguh mengenaskan dan sangaat disayangkan. Bagaimana bisa hal yang seharusnya membuat senang, menjadi suatu kedukaan bagi yang ditinggalkan. Uang Rp 30.000,- harus ditukar dengan nyawa. ini sungguh ironis.

Penulis tidak akan membahas mengenai siapa yang salah dan siapa yang benar dari tragedi diatas. Tetapi penulis mencoba melihat dari kacamata yang lain (penulisnya pakai kacamata soalnya) yaitu "Ternyata Masih Banyak Orang Yang Membutuhkan (orang miskin) Di Indonesia Ini". Saat masih SD dahulu kita pasti pernah disuruh menghafalkan Undang-Undang Dasar 1945, dan pastilah kita masih ingat akan Pasal 34 yang menyebutkan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dilindungi dan dipelihara oleh negara”.

Lalu apakah itu sudah dilakukan?

Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Apakah kita harus bergantung terus pada Negara?

Saat ini penulis mulai berfikir seperti itu, haruskah penulis diam tanpa membantu Negara? tapi jika membantu, apakah yang bisa penulis lakukan?

Apabila diantara pembaca bisa memberi penjelasan saya ucapkan terimakasih, dan saya tunggu komentar dari kawan-kawan pembaca

HIDUP INDONESIA

Susahnya CARI KERJA

Dahulu terasa Indah
saat kita masih pakai ALMAMATER
saat akan ujian kita pakai cara SKS
saat Maba datang kita pakai jurus SENIORITAS

tapi...
saat Toga terpasang
aku mulai bingung dan linglung
kemanakah aku akan berjalan?

3 bulan sudah berlalu...
tanpa ada kejelasan hidup

haruskah aku begini terus
berjalan tanpa arah jelas

menggantungkan hidup pada secarik kertas bernama IJASAH
menanti orang baik hari memanggil
"anda saya terima di perusahaan"

apakah bangga?
sarjana dengan TITEL S1 PERTANIAN
menggantungkan masa depan pada Secarik Kertas?

apakah layak?
sarjana dengan TITEL S1 PERTANIAN
menaanti, menanti dan terus menanti

LIHATLAH kedepaan
banyak yang layak kau lakukan
untuk hidupmu dan masa depanmu