Semalam aku bermimpi
Tentang aku dan kamu
Di sini di sebuah Gereja
Ada luapan dalam diri
Segera ingin bertemu
Untuk ungkapkan sebuah rasa
Gejolak rasa ini
Tak bisa menahan rindu
Untuk segera berkata
Maukah kau menikah denganku
Menjalani sisa hidupmu
Denganku selalu
Maukah kau berbagi
Saling memberi
Tak ada lagi sendiri
Kita jalani bersama
Dalam duka dan suka
Serta saling menjaga
Semua yang ada di dunia ini adalah Fana semata, Semuanya ada dan bermula dari Dia yang meciptakan dan memusnahkan kita, Jangan Takut dan Gentar.
28 Januari 2014
PEMANFAATAN MIKROALGA DALAM BIDANG PANGAN
Saat
ini ketertarikan terhadap produksi biofuel dari mikroalga masih cukup
besar, namun, karena produksi biofuel dari alga menjadi tidak ekonomis
dengan adanya beberapa perusahaan
biofuel dari alga belum memproduksi dalam kuantitas skala komersial
dengan
harga yang bersaing (Milledge, 2010). Biofuel dari alga belum dapat
bersaing dengan biofuel lainnya dan juga harga produksinya harus
dikurangi
secara signifikan untuk menjadi lebih ekonomis.
Mikroalga mempunyai
potensi besar untuk menghasilkan berbagai senyawa biokimia penting untuk
makanan, pengobatan medis, penelitian, dan pemanfaatan lain dan masih banyak
senyawa biokimia penting yang belum ditemukan dari mikroalga (Raja et
al.,2008). Mikroalga berpotensi menjadi sumber alami senyawa yang dapat
digunakan sebagai bahan makanan dan meningkatkan nutrisi dalam makanan bagi
manusia dan hewan.Penelitian baru-baru ini fokus kepada biomassa dari alga
sebagai sumber dari rotein dan pemeriksaan secara sistematis alga untuk
komponen aktif dan obat-obatan.
Mikroalga organisme
autotrof yang tumbuh dengan berfotosintesis yang mekanismenya mirip dengan
tumbuhan darat, karena terdapat kesamaan pada struktur selulosa yang
dimilikinya.Dibandingkan dengan organisme fotosintetik lainnya, mikroalga
paling efisien dalam menangkan dan memanfaatkan energi matahari dan CO2
untuk keperluan fotosintesis karena mikroalga mengandung klorofil dan
pigmen-pigmen lainnya. Mikroalga hidup secara planktonik di perairan, namun juga
dapat hidup secara epifit dan bentik di dasar perairan yang mempunyai
intensitas cahaya yang cukup (Gouveia and Oliveira, 2011).Bentuk mikroalga
bervariasi seperti filamen, spiral, dan bulat.Mikroalga dibagi menjadi empar
kelompok utama, yaitu diaton (Bacillariophyceae), alga hijau (Chlorophyceae),
alga hijau biru (Cyanophyceae), dan ganggang emas (Chrysophyceae).
Teknik Budidaya Alga
Terdapat
faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroalga seperti faktor abiotik
(cahaya matahari, temperatur, nutrisi, O2, CO2, pH, dan
salinitas), faktor biotik (bakteri, jamur, virus, dan kompetisi dengan
mikroalga lain), serta faktor teknik (cara pemanenan, dan lain-lain) (Harun, et
al., 2010). Teknik yang umum digunakan untuk membudidayakan alga adalah raceway pond system (kolam dengan bentuk
menyerupai arena balap) dan closed
photobioreactors (photobioreaktor tertutup).
Raceway
Pond System (RPS)
Sistem
ini merupakan yang paling ekonomis untuk membudidayakan dan memproduksi
biomassa dari alga secara massal, terutama karena biaya modal yang relatif
rendah dan kemudahan pengoperasiannya. Kolam biasanya terdisi dari saluran
resirkulasi sistem tertutup (berbentuk oval) dimana proses pencampuran dan
sirkulasi disediakan oleh paddlewheel untuk menghindari pengendapan biomassa
dari alga. Sumber CO2 disebarkan di bagian bawah kolam seperti dapat
dilihat pada Gambar 1 (Greenwell et al., 2010, Stephenson et al., 2010).
RPS
biasanya dibangung dengan beton atau tanah dipadatkan dan dilapisi dengan
kantong plastik putih. Kedalaman kolam biasanya 0,2-0,5 m untuk memastikan
bahwa alga menerima paparan sinar matahari yang cukup (Brennan and Owende,
2010). Dengan menggunakan metode ini, produktivitas biomassa alga dapat mencapai
0,3-0,5 g/L (Pulz, 2001) bergantung pada jenis alga, budidaya, kondisi, dan
cuaca.

Gambar 1 Raceway Pond System
Sumber: Brennan and Owende, 2010
Meskipun RPS mempunyai keuntungan yaitu
konsumsi energi yang kecil dan biaya operasi yang rendah, sistem ini masih
memiliki beberapa keterbatasan, seperti kehilangan air yang besar karena
penguapan yang tinggi dan menjadi mudah terkontaminasi oleh mikroorganisme yang
tidak diinginkan (misalnya bakteri, jamu, dan protozoa) yang dapat mematikan
seluruh populasi alga (Schenk et al., 2008). Oleh karena itu, diperlukan
pembersihan dan pemeliharaan yang rutin untuk memastikan bahwa alga tumbuh
dalam kondisi yang optimal.
Photobioreaktor Tertutup
Untuk mengatasi
keterbatasan sistem RPS dalam budidaya alga, photobioreaktor tertutup dirancang
untuk memastikan sel-sel alga dapat tumbuh di bawah kondisi optimal dengan
konsistensi tinggi dalam produktivitas biomassanya.Kondisi yang tertutp dan
sistem pada photobioreaktor ini dikontrol secara ketat sehingga tingkat
kontaminasi dalam media budidaya alga dapat diminimalkan.Hal ini memungkinkan
budidaya alga dalam waktu yang lama dan sumber air yang digunakan dapat dipakai
kembali untuk siklus budidaya berikutnya (Brennan and Owende, 2010). Sistem
photobioreaktor tertutup merupakan sistem yang fleksibel dibandingkan sistem
RPS karena pada sistem ini kondisi budidaya dapat dioptimalkan sesuai dengan
karakteristik biologis dan fisiologis dari spesies alga yang sedang
dibudidayakan.Sebagai contoh, kondisi pH, temperatur, konseentrasi CO2, tingkat
nutrisi dapat dimanipulasi untuk menyesuaikan pertumbuhan optimal spesies alga.
Keuntungan
ini telah menarik minat banyak peneliti untuk lebih meningkatkan kondisi operasi
pada sistem photobioreaktor tertutup untuk implementasi pada skala komersial.
Tergantung pada jenis alga yang dibudidayakan, photobioreaktor menawarkan
produktivitas biomassa yang tinggi, umumnya di kisaran 0,05-0,38 g/L (Brennan
and Owende, 2010). Gambar dari photobioreaktor tertutup dapat dilihat pada
Gambar 2.

Gambar 2 Contoh
Photobioreaktor Tertutup
Sumber: Christi, 2007
Pemisahan Biomassa dari Alga
Setelah alga
tumbuh pada konsentrasi yang siap dipanen, pemisahan dan ekstraksi biomassa dari
mikroalga dari mediakultur diperlukan untuk menggunakan minyak, alkohol, atau
produk yang diinginkan. Biomassa dapat dipisahkan dari media kultur dengan cara
filtrasi, sentrifugasi, dan flokulasi (pemisahan secara koloid), dan metode
lainnya (Molina Grima et al., 2003). Pengambilan biomassa dapat menjadi masalah
karena ukuran sel alga yang kecil (3-30 µm diamater). Media kultur yang relatif
encer (<0 kg="" m="" sup="">30>
biomassa kering) dan perlu penanganan volumenya
yang besar.
Flokulasi bertujuan untuk mengagregasi
sel-sel mikroalga sehingga mencapai ukuran partikel yang efektif untuk kemudian
dilakukan sedimentasi, sentrifugasi, dan filtrasi. Proses flokulasi dan
dilanjutkan dengan sedimentasi atau flotasi merupakan metode yang paling
ekonomis. Dalam proses ini alga sebagai hidrofilik biokoloid yang mempunyai
permukaan negatif. Sebagai tambahan, ukuran alga yang kecil, 3-15 µm dan spesifik gravity yang kecil menyebabkan
proses penghilangan secara psikokimia. Azarian et al. (2007) memilih
menggunakan metode klasik dan konvensional, yaitu koagulasi/flokulasi dengan
alumunium sulfat dan metode lainnya yaitu eletrolisis. Namun, setelah
dibandingkan hasil yield alga yang diperoleh, metode elektrolisis mempunyai
kelebihan dibandingkan pemakaian koagulasi / flokulasi dengan reagen kimia,
yaitu: biaya murah, karena tidak
menggunakan reagen-reagen (alumunium sulfat, dll), waktu lebih cepat, kemungkinan
alga yang beragregasi sehingga menjadi kontaminan dengan logam-logam hidroksida
kecil, dan sistem elektrolisis tidak lebih kompleks dari sistem pemisahan
dengan dekantasi (setelah koagulasi/flokulasi).Untuk lebih lengkapnya, proses
pemisahan alga dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1 Metode-Metode Pemisahan Alga
|
Cara Pemisahan
|
Proses
|
Kelebihan
|
Kekurangan
|
|
Sentrifugasi
|
Sedimentasi dari solid tersuspensi
yang ditentukan oleh berat jenis dan radius sel alga
|
Cepat dan efisien
|
Konsumsi energi tinggi dan biaya
perawatan besar
|
|
Flokulasi
|
Untuk mengagregasi biomassa dari alga
menjadi ukuran yang lebih besar
|
Hemat biaya
|
Biomassa dari alga tidak dapat
digunakan untuk aplikasi downstream seperti
pakan ternak
|
|
Floatasi
|
Memerangkan biomassa dari alka dengan
mendispersikan gelembung udara ukuran mikro
|
Dapat digunakan untuk memproses
biomassa dalam volume yang besar
|
Toksisitas dan floakulan dapat
menurunkan nilai dari biomassa
|
|
Filtrasi
|
Filter press dan filter membran
dioperasikan pada kondisi vakum
|
Efektif untuk pemisahan alga yang
berukuran besar dan kecil
|
Filter press : tidak dapat digunakan
untuk alga ukuran kecil
Filter membran : biaya tinggi karena
penggantian membran, perawatan, dll.
|
|
Sedimentasi
|
Pengendapan solid yang tersuspensi
|
Biaya rendah karena tidak menggunakan
bahan kimia
|
Tidak efektif untuk alga ukuran kecil,
settling time lebih lama
|
|
Ultrasonokasi
|
Menggunakan gelombang ultrasonik yang
dapat mempercepat pengendapan
|
Dapat dioperasikan secara kontinu
|
Masalah keamanan
|
(Sumber: Brenna
dan Owende, 2010; Greenwell et al., 2010; Schenk et al., 2008)
Beberapa cara metode dehidrasi telah ada untuk mengeringkan slurry dari alga, yaitu pengeringan matahari (solar drying), spray drying, freeze drying, dan fluidized bed drying. Solar drying merupakan metode yang paling murah karena sinar matahari dapat diperoleh secara cuma-cuma, namun permukaan pengeringan yang besar diperlukan dan metode ini sangat memakan waktu.Namun, penggunaan solar drying di negara yang sinar mataharinya tidak selalu tersedia sepanjang tahun, metode ini tidak dapat digunakan.
Mikroalga sebagai Makanan dan Suplemen Makanan
Mikroalga mempunyai
kandungan protein yang sangat tinggi, sehingga dikenal juga dengan namasingle cell protein (SCP) (Harun et al.,
2010). Sumber SCP yang dikenal masyarakat diantaranya adalah Spirulina maxima dan Chlorella vulgaris (Chen et al., 2011).
Karbohidrat dalam mikroalga ditemukan dalam bentuk pati, glukosa, gula, dan
polisakarida-polisakarida lain. Kandungan lipid rata-rata dari sel alga
bervariasi pada rentang 1%-70% namun bisa mencapai 90% dari berat kering dengan
kondisi tertentu.Lipid dalam mikroalga terdiri dari gliserol, asam lemak jenuh,
dan asam lemak tak jenuh.Komposisi lipid pada mikroalga dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti perbedaan nutrisi, lingkungan, dan fasa pertumbuhannya
(Mata et al., 2010).
Beberapa
mikroalga telah dikonsumsi sebagai makanan kesehatan karena nilai gizinya yang
tinggi.Saat ini, Spirulina telah
dibudidayakan secara besar menggunakan RPS untuk produksi biomassa komersial
sebagai suplemen makanan di Thailand, China, Amerika Serikat, dan
India.Diperkirakan produksi tahunan Spirulina
mencapai 3000-4000 metrik ton (Belay, 2008).Spirulina
dianggap sebahai makanan bergizi karena kandungannya yang tinggi akan protein,
asam γ-linolenat, vitamin, dan mineral. Sebagai tambahan, untuk dapat
dikonsumsi sebagai bahan makanan, Spirulina
mempunyai fungsi terapi untuk masalah kesehatan seperti diabetes, arthritis,
anemia, penyakit jantung, dan kanker.Spirulina
juga berguna sebagai bahan fungsional untuk dimasukkan ke dalam produk makanan
sehingga nilai gizinya meningkat dan untuk mengatasi penyakit-penyakt seperti
diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung.Spirulina
juga terkenal dengan senyawa antioksidannya seperti phycocyanin dan vitamin
E (Chu, 2011).
Nostoc merupakan alga yang juga dianggap
sebagai makanan sehat karena tinggi protein dan kandungan pigmen, dan kandungan
lemak yang rendah.Spesies utama Nostoc
yang bernilai ekonomi adalah Nostoc
flagelliforme.Nostoc flagelliforme
mengandung pigmen dalam jumlah yang tinggi seperti echinenone dan
myxoxanthrophyll, dan juga allophycocyanin, phycocyanin, dan klorofil. Alga ini
juga mengandung 19 asam amino yang delapan diantaranya merupakan asam amino
esensial bagi manusia yang berjumlah 35,8-38,0% dari total asam amino (Han et
al., 2004). Alga ini telah digunakan pada obat-obatan tradisional China untuk
pengobatan diare, hipertensi, dan hepatitis.
Chlorella merupakan mikroalga lain yang
telah dibudidayakan secara komersial sebagai makanan kesehatan dalam bentuk pil
dan serbuk. Nilai nutrisi yang terkandung dalam Chlorella adalah kandungan tinggi dari protein (51-58% berat
kering) dan karotenoid, dan kandungan vitamin-vitamin.Sebagai tambahan, alga
ini mengandung β-glucan, yang merupakan imunostimulator aktif, dan mempunyai
efek mengatasi radikal bebas dan menurunkan lemak dalam darah (Iwamoto, 2004).
Produk lain yang disebut “Chlorella
Growth Factor” telah didistribusikan sebagai agen untuk meningkatkan
pertumbuhan bakteri laktat.
Produk Bernilai Tinggi dari Mikroalga
Mikroalga
merupakan sumber potensial dari berbagai produk bernilai tinggi, meliputi polyunsaturated fatty acids (PUFA),
karotenoid, fikobiliprotein, polisakarida, dan fikotoksin seperti dapat dilihat
pada Tabel 3.1. Beberapa mikroalga mempunyai potensi sebagai sumber PUFA rantai
panjang.Sumber konvensional untuk PUFA rantai panjang adalah minyak ikan, namun
ikan tidak mensintesisasam lemak ini, namun mereka mendapatkannya dari makanan
mereka yaitu mikroalga di laut.Untuk manusia, DHA sangat penting untuk
perkembangan otak dan mata pada bayi dan berguna untuk mendukung kesehatan
kardiovaskular pada orang dewasa.Minyak yang diekstrak dari Cohnii Chrythecodinium mengandung 40-50%
DHA tapi tidak terdapat DHA atau PUFA.Aplikasi utama dari minyak DHA adalah
sebagai suplemen utama pada susu formula.
Karotein
pada alga berfungsi sebagai pigmen tambahan dalam proses fotosintesis. Senyawa
ini hanya terdiri dari hidrokarbon sedangkan senyawa dengan ikatan oksi,
hidroksil, atau epoksi disebut xanthofil.Dari 400 jenis karotenoid, jenis utama
yang telah digunakan secara komersial adalah β-karoten dan astaxanthin dan pada
tingkat yang lebih rendah, lutein, zeazanthin, dan likopen (Spolaore et al.,
2006).Karotenoid digunakan sebagai pewarna makanan alami dan zat aditifpada
pakan ternak, serta pada kosmetik.Dalam hal gizi, karotenoid tertentu, terutama
β-karoten berfungsi sebagai provitamin A. Karotenoid juga dikenal bersifat
antikanker dan anti-inflamasi yang sebagian besar disebabkan karena sifat
antioksidannya.Diantara mikroalga, alga hijau Dunaliella salina telah
dibudidayakan menggunakan sistem RPS untuk memproduksi β-karoten. Alga yang
tumbuh di dalam air dengan kadar garam tinggi mampu menghasilkan β-karoten lebih dari 14% berat keringnya.
Tabel 2 Produk dari
Mikroalga
|
Produk
|
Aplikasi
|
Mikroalga Pembuat
|
|
Polyunsaturated
fatty acids (PUFA)
-
Asam eikosapentaenoat (EPA)
-
Asam dokoheksaenoat (DHA)
-
Asam γ-linolenat (GLA)
-
Asam arachidonat (AA)
|
Suplemen
nutrisi, pakan aquakultur
Formula
anak, suplemen nutrisi, pakan aquakultur
Suplemen
nutrisi
Suplemen
nutrisi
|
Pavlova, Nannochloropsis, Monodus,
& Phaeodactylum
Cryptheodiuimu & Schizochytrium
Spirulina
Porphyridium
|
|
Fikobiliprotein
-
Fikosianin
-
Fikoeritrin
|
Pewarna
alami pada makanan sehat dan antioksidan
Agen
fluorescent, alat penelitian biomedical, alat diagnosa
|
Spirulina platensis
Alga merah (seperti Porphyridium
cruentum)
|
|
Karotenoid
-
β-karoten
-
Astaxanthin
|
Pewarna
makanan, antioksidan
Antioksidan
|
Dunaliella salina
Haematococcus pluvialis
|
|
Asam
amino mikosporin (MAA)
|
Agen
skrining UV, sunscreen
|
Aphanizomenon flos-aquae
|
|
Polisakarida
|
Bahan
pengental, pelumas, dan flokulan untuk aplikasi industri, agen antivirus
|
Porphyridium cruentum
|
|
Fikotoksin
- Okadaic acid, gonyautoxins, yessotoxins
|
Alat
penelitian untuk investigasi penyakit neurodegeneratif
|
Dinoflagella (seperti Amphidinium,
Prorocentrum & Dinophysis)
|
|
Lipid
– trigliserida danhidrokarbon
|
biofuel
|
Chlorella protothecoides, Botryococcus
braunii
|
(Sumber:
Chu, 2012)
DAFTAR
PUSTAKA
Azarian, G.H.,
Mesdaghinia, A.R., Vaezi, F., Nabizadeh, R., Nematollahi, D., (2007). Algae
removal by electro-coagulation process, application for treatment of effluent
from an industrial wastewater treatment plant, Iranian J. Publ.Health, 36,57-64.
Belay, A. 2008.
Spirulina (Arthrospora): production and quality assurance. Spirulina in human condition and health. Boca Raton: CRC Press,
1-25.
Brenna, L., Owende, P. 2010. Biofuels from
microalgae: A review of technologies for production, processing, and
extraction, of biofuels and co-product. Renew.
Sustain Energy Rev. 14, 557-577.
Chen, C.Y., Yeh, K.L., Aisyah, R., Lee, D.J., &
Chang, J.S. 2011. Cultivation, photobioreactor design and harvesting of
microalgar for biodiesel production: a critical review. Bioresource Technology, 101, 87-96.
Chisti, Y., 2007.
Biodiesel from microalgae.Biotechnol. Adv.
25, 294–306.
Chu, W.L. 2011.
Potential applications of antioxidant compounds from algae.Curr.Top.Nutraceut. Res., 9:83-98.
Chu, W.L. 2012.
Biotechnological applications of microalgae.IeJSME 2012: 6 (Suppl
1): S24-S37.
Ehimen, E.A., Sun,
Z.F., Carrington, C.G. (2010). Variables affecting the in situ
transesterification of microalgae lipids.Fuel,
89, 677-684.
Gouveia, L., & Oliveira, A.C. 2009.Microalgae as
a raw material for biofuels roduction. J.
Ind. Microbiol. Biotechnol., 36: 269-274.
Greenwell, H.C., Laurens, L.M.L., Shields, R.J.,
Lovitt, R.W., Flynn, K.J. 2010.Placing microalgae on the biofuels priority
list: a review of the technological challenges.J.R. Soc. Interface 7, 703-726.
Han D, Bi Y, Hu Z. Industrial production of microalgal cell-mass and secondary products –
species of high potential. Nostoc. In: Richmond A, ed. Handbook of
microalgal culture: biotechnology and applied phycology. Oxford: Blackwell
Science, 2004: 304-311.
Harun, R., Sinh, M., Forde, G,M., & Danquah,
M.K. 2010. Bioprocess engineering of microalgae to produce a variety of
consumer products. Renewable and
Sustainable Energy Reviews, 14, 1037-1047.
Iwamoto
H. Industrial production of microalgal
cell-mass andsecondary products – major industrial species.Chlorella.
In: Richmond A, ed. Handbook of microalgal culture: biotechnology and applied
phycology. UK: Blackwell Science, 2004: 255-263.
Mata, T.M., Martins, A.A, & Caetano, N.S. 2010.
Microalgae for biodiesel production and other applications: a review. Renewable and Sustainable Energy Reviews,
14, 217-232.
Molina Grima, E.,
Belarbi, E.H., Acien Fernandez, F.G., Robles Medina, A., Chriti, Y. (2003).
Recovery of mikroalgal biomass and metabolites: process options and economic. Biotechnol. Adv, 20, 491-515.
Milledge, J.J. 2010. The challenge of algal fuel:
economic processing of the entire algal biomass. Condensed matter-materials engineering newsletter, Hamilton,
McMaster University, Departement of Material Science and Engineering, 1(6):
4-6.
Pulz, O. 2001. Photobioreactor: production systems
for phototrophic microorganisms. Appl.
Microbiol. Biotechnol., 57, 287-293.
Raja, R., Hemaiswarya, S., Ashok Kumar, N., Sridhar,
S., Rengsamy, R. 2008.A perspective on biotechnlogical potential of microalgae.Crit Rev Microbiol, 34:34-77.
Schenk, P., Thomas-Hall, S., Stephens, E.,
Marx, U., Mussgnug, J., Posten, C., et al., 2008. Second Generation
Biofuels:High-Efficiency Microalgae for Biodiesel Production. BioEnergy Res. 1, 20–43.
Spolaore
P, Joannis-Cassan C, Duran E, Isambert A. Commercial applications of
microalgae. J Biosci Bioengrg; 101:
87-96.
Stephenson,
A.L., Kazamia, E., Dennis, J.S., Howe, C.J., Scott, S.A., Smith, A.G., 2010.
Life-cycle assessment of potentialalgal biodiesel production in the united kingdom:
A comparison of raceways and air-lift tubular bioreactors. Energy Fuels 24, 4062–4077.
Langganan:
Postingan (Atom)