Tulisanku yang kau baca saat ini
Hanya aku tulis untuk Seseorang, yaitu kau
Kau yang jauh ditempat sana
Aku disini berusaha untuk terus menjaga
Menjaga hatiku yang sunyi
Sendiri…
Aku disini berdoa, bekerja dan belajar
Berharap rahmat Tuhan turun dari Sorga
Kau yang kurindukan
Tunggulah diriku
Dua, Tiga, Empat Bahkan Lima Tahun lagi
Pasti akan ku penuhi janjiku
Membawa kau pergi bersama aku
Aku disini berdoa, bekerja, dan belajar
Berharap rahmat Tuhan turun dari Sorga
Memaksa otak berfikir cepat
Memaksa otot bergerak kuat
Semuanya…
Dua, Tiga, Empat, bahkan Lima Tahun lagi
Akan aku bawa serta buahnya
Bersama kauPujaan hatiku
Aku disini berdoa, bekerja, dan belajar
Berharap rahmat Tuhan Turun dari Sorga
Membawa kau pergi
Pergi kesebrang Samudera
Serta membawa
Buah-buah
Dari berdoa
Dari bekerja
Dari belajar
Semuanya kita olah bersama
Bersama selamanya
Semuanya…
Dua, Tiga, Empat, bahkan Lima Tahun lagi
Tunggulah…
Hingga semua berbuah
Semua yang ada di dunia ini adalah Fana semata, Semuanya ada dan bermula dari Dia yang meciptakan dan memusnahkan kita, Jangan Takut dan Gentar.
03 Maret 2009
Bunga Lambang Cinta
Valentine yang lalu aku tidak memberi bunga
Bunga yang dijual di jalan waktu itu adalah Mawar
Mawar...Indah dipandang dan harum mewangi...
tapi Mawar...
juga berduri tajam...
aku tak mau u terluka oleh durinya
tapi kemarin...
aku memberimu Gerbera...
bunganya indah tapi tidak mewangi...
tapi juga tidak berduri...
ku berikan itu sebagai tanda sayangku padamu...
karena datangnya cinta berawal dari mata turun ke hati...
begitu pula Gerbera...
awalnya indah dilihat dan akhirnya jatuh cinta jadinya
Untukmu yang tersayang...
I Love U
Bunga yang dijual di jalan waktu itu adalah Mawar
Mawar...Indah dipandang dan harum mewangi...
tapi Mawar...
juga berduri tajam...
aku tak mau u terluka oleh durinya
tapi kemarin...
aku memberimu Gerbera...
bunganya indah tapi tidak mewangi...
tapi juga tidak berduri...
ku berikan itu sebagai tanda sayangku padamu...
karena datangnya cinta berawal dari mata turun ke hati...
begitu pula Gerbera...
awalnya indah dilihat dan akhirnya jatuh cinta jadinya
Untukmu yang tersayang...
I Love U
Srigala dan Bangau
Ini sebuah cerita yang berasal dari sebuah hutan berabad-abad yang lalu sebelum manusia ada (red: sok tahu, bagaimana bisa cerita kalau manusianya aja belum ada). Di hutan tersebut ada seekor Srigala yang sangat ditakuti, dia menjadi Sang Raja Hutan setelah mengalahkan Singa dan memakan Singa tersebut mentah-mentah (red: ya-iyalah dimakan mentah, emang hewan bisa masak). Dan dimulailah Dinasti baru (red: Mentang-mentang baru nonton Red Cliff tuh), yaitu Dinasti Srigala Khan. Srigala ini sangat gemar makan daging (red: memang ada Srigala yang makan tumbuhan). pada suatu waktu Srigala tersebut sedang makan daging ayam (red: memang kenyang cuman makan ayam), karena sangat laparnya 1 ekor ayam ekor tersebut langsung dimakan utuh-utuh (red: perbedaan lapar dan rakus kecil banget). Saat sedang menelan ayam, tiba-tiba salah satu tulang ayam yang dimakan tersangkut ditenggorokannya (red: hehehe rasain). Srigala tersebut teramat sangat tersiksa (red: duh kasihan banget), sehingga dia minta bantuan pada hewan-hewan yang ada di hutan. Tetapi semua hewan yang ada disana tidak ada yang bisa mengeluarkan tulang tersebut, akhirnya Burung Hantu menyarankan agar pergi ke Burung Bangau agar tulang yang menyangkut di tenggorokannya bisa diambil dengan paruhnya yang panjang (red: kenapa harus Burung Hantu ya… yang selalu dianggap tahu segalanya).Maka pergilah Srigala menemui Burung Bangau, saat sudah bertemu Srigala berkata: “Wah… hai Bur..rung Bang..gau ya…ng rup…pawan, tol…long ak…ku, tol…long am…bilkan tul…lang ya…ng men…nyak…kut di… teng…gor…rok…kan…ku”, katanya sambil terbata-bata kerena rasa sakit ditenggorokan (red: duh kasihannya).Burung Bangau pun menjawab :” Tidak, pasti nanti setelah aku mengambil tulang yang menyangkut ditenggorokanmu, kau pasti akan memakanku?”.Srigala tersebut berkata: “Ti…idak ak…ku ti…idak a…kan me…mak…kan…mu, tet…ta…pi bil…la nan…nti su…dah sem…buh ak…ku ak…kan me…mber…ri…mu had…di…ah, in…ni jan…nji…ku”.“Benar apa yang kau katakana?” Tanya Bangau, karena menahan sakit maka Srigala tersebut hanya menganguk-angguk tanda setuju.“Kau tidak bohongkan?” Tanya Bangau lagi, Srigalapun menganguk-angguk.“Baik akan aku ambil tulang yang menyangkut di tenggorokanmu, tapi ingat akan janjimu yack?” kata Bangau lagi, dan untuk kesekian kali Srigala hanya bisa menganguk-anguk saja.Kemudian Bangau pun mengambil tulang yang menyangkut di tenggorokan Srigala tersebut dengan paruhnya yang panjang, setelah terbebas dari tulang tersebut maka pergilah Srigala tersebut tanpa bilang apa-apa.Bangau pun berkata: “Srigala Lupakah kau akan janjimu?”Srigala tersebut menoleh sambil berkata: “Aku sudah mengampuni nyawamu, aku tidak akan memakanmu hari ini, apakah itu bukan hadiah terindah untuk mu?”
Raksasa Ganti Menu Makan
Alkisah disebuah desa pada jaman dahulu, hiduplah satu Raksasa (“Buto” dalam Bahasa Jawa). Raksasa ini adalah jenis pemakan daging (Hewan maupun Manusia). Penduduk yang tinggal di desa tersebut sangatlah takut, karena bila Raksasa tersebut lapar, maka ia akan makan daging apapun yang dilihatnya, tak terkecuali Manusia. Penduduk yang tinggal di desa tersebut akhirnya meminta bantuan Resi (Petapa Sakti), yang kebetulan sedang singgah di desa. Resi tersebut menanyakan pada Penduduk akan dia Apakan Raksasa ini? Resi tersebut bisa melakukan apapun, kecuali membunuh. Maka Penduduk meminta kepada Resi untuk mengubah selera makan dari Raksasa, agar tidak makan daging lagi. Maka pergilah Sang Resi menemui Raksasa.Beberapa jam kemudian, Resi tersebut kembali ke desa dengan senyum, semua Penduduk desa menantinya dengan berharap-harap cemas. Setelah bertemu dengan Resi maka Penduduk mulai bertanya, bagaimana dengan Raksasa? Dan Resi menjawab bahwa sekarang Raksasa tidak makan daging lagi tetapi makan tumbuhan. Mendengar hal tersebut bersoraklah Penduduk serta mengeluh-eluhkan Sang Resi. Karena Resi hanya sekedar singgah di desa maka dia langsung pamit untuk melanjutkan perjalanan ke desa lain, kepergian Resi tersebut diiringi dengan tepuk tangan dan sorak sarai Penduduk.Beberapa hari kemudian terlihatlah Hutan Gundul…Bukan karena penebangan liar atau kebakaran hutan, tetapi karena pohon dimakan oleh Raksasa.Sekarang Penduduk mulai was-was, karena Hutan Gundul dapat menyebabkan banjir saat musim penghujan.(Sumber: Berbagai Buku)
Langganan:
Postingan (Atom)