02 April 2009

Uang

Uang...

Siapa yang tidak membutuhkan uang sekarang??? Semuanya sudah serba uang, beli baju bayar pakai uang, beli makan bayar pakai uang, bahkan untuk bernafaspun ada yang harus pakai uang. Benar-benar gila dunia ini... semuanya dinilai oleh uang. Kuliah harus bayar dengan uang bukan??? Bahkan nilaipun bisa bagus kalau ada uang wah... benar-benar dunia ini sangat mengagung-agungkan uang.

Uang...

Uang dibuat untuk mempermudah proses transaksi, tapi sekarang uang dibuat untuk memanjakan manusia, “bagi yang punya uang”. Tak salah bila pada musim saat ini (Musim Kampaye) banyak yang mengobral uang sebagai jaminan, mulai dari yang ini murah, itu murah, ato janji-janji kesejahteraan bila nanti terpilih...

Wah... hebat sekarang semuanya tumpah ruah dijalan menghambur-hamburkan uang untuk kampanye supaya terpilih kelak, lagi-lagi pakai uang

Uang...

Siapa yang tidak mau uang???
Membanting tulang untuk dapat uang, bahkan dengan berkata bisa jadi uang... Benar-benar indah dunia ini semuanya dapat dinilai dari uang. Sampai ada perkatan “Kalo Kepala Lo Jual, Gua Beli!!!” sampai segitukah peran uang sekarang???

Sekarang katanya jaman modern, ya... modern karena manusia diperbudak oleh uang. Uang, uang, dan uang... Itu pasti yang ada dipikiran semua orang... Adakah yang tidak berfikir tentang uang dalam hidupnya???

HIDUP UANG!!!
HIDUP UANG!!!
JAYALAH UANG!!!

Jadilah sebuah semangat untuk hidup???

Uang...

PS: Ini adalah sebuah perenungan, benarkah kita sudah dikuasai oleh Uang sekarang...?

Perbedaan Persepsi

Ada seorang ayah yang menjelang ajalnya di hadapan sang Istri berpesan DUA hal kepada 2 anak laki-lakinya :
- Pertama : Jangan pernah menagih hutang kepada orang yg berhutang kepadamu.
- Kedua : Jika pergi ke toko jangan sampai mukamu terkena sinar matahari.Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal. Anak yang sulung bertambah kaya, sedang yang bungsu menjadi semakin miskin.
Pada suatu hari sang Ibu menanyakan hal itu kepada mereka.
Jawab anak yang bungsu : "Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih".
"Juga Ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya saya bisa berjalan kaki saja, tetapi karena pesan ayah itu, akibatnya pengeluaranku bertambah banyak".
Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, sang Ibu pun bertanya hal yang sama.
Jawab anak sulung : "Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak pernah menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut".
"Juga Ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Karenanya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup."
"Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama".
Sumber: Berbagai Buku

03 Maret 2009

Tunggulah Aku

Tulisanku yang kau baca saat ini
Hanya aku tulis untuk Seseorang, yaitu kau
Kau yang jauh ditempat sana
Aku disini berusaha untuk terus menjaga
Menjaga hatiku yang sunyi
Sendiri…

Aku disini berdoa, bekerja dan belajar
Berharap rahmat Tuhan turun dari Sorga

Kau yang kurindukan
Tunggulah diriku
Dua, Tiga, Empat Bahkan Lima Tahun lagi

Pasti akan ku penuhi janjiku
Membawa kau pergi bersama aku

Aku disini berdoa, bekerja, dan belajar
Berharap rahmat Tuhan turun dari Sorga

Memaksa otak berfikir cepat
Memaksa otot bergerak kuat

Semuanya…
Dua, Tiga, Empat, bahkan Lima Tahun lagi

Akan aku bawa serta buahnya
Bersama kauPujaan hatiku

Aku disini berdoa, bekerja, dan belajar
Berharap rahmat Tuhan Turun dari Sorga

Membawa kau pergi
Pergi kesebrang Samudera

Serta membawa
Buah-buah
Dari berdoa
Dari bekerja
Dari belajar

Semuanya kita olah bersama
Bersama selamanya

Semuanya…
Dua, Tiga, Empat, bahkan Lima Tahun lagi

Tunggulah…
Hingga semua berbuah

Bunga Lambang Cinta

Valentine yang lalu aku tidak memberi bunga
Bunga yang dijual di jalan waktu itu adalah Mawar

Mawar...Indah dipandang dan harum mewangi...
tapi Mawar...
juga berduri tajam...

aku tak mau u terluka oleh durinya

tapi kemarin...
aku memberimu Gerbera...
bunganya indah tapi tidak mewangi...
tapi juga tidak berduri...

ku berikan itu sebagai tanda sayangku padamu...
karena datangnya cinta berawal dari mata turun ke hati...

begitu pula Gerbera...
awalnya indah dilihat dan akhirnya jatuh cinta jadinya

Untukmu yang tersayang...
I Love U

Srigala dan Bangau

Ini sebuah cerita yang berasal dari sebuah hutan berabad-abad yang lalu sebelum manusia ada (red: sok tahu, bagaimana bisa cerita kalau manusianya aja belum ada). Di hutan tersebut ada seekor Srigala yang sangat ditakuti, dia menjadi Sang Raja Hutan setelah mengalahkan Singa dan memakan Singa tersebut mentah-mentah (red: ya-iyalah dimakan mentah, emang hewan bisa masak). Dan dimulailah Dinasti baru (red: Mentang-mentang baru nonton Red Cliff tuh), yaitu Dinasti Srigala Khan. Srigala ini sangat gemar makan daging (red: memang ada Srigala yang makan tumbuhan). pada suatu waktu Srigala tersebut sedang makan daging ayam (red: memang kenyang cuman makan ayam), karena sangat laparnya 1 ekor ayam ekor tersebut langsung dimakan utuh-utuh (red: perbedaan lapar dan rakus kecil banget). Saat sedang menelan ayam, tiba-tiba salah satu tulang ayam yang dimakan tersangkut ditenggorokannya (red: hehehe rasain). Srigala tersebut teramat sangat tersiksa (red: duh kasihan banget), sehingga dia minta bantuan pada hewan-hewan yang ada di hutan. Tetapi semua hewan yang ada disana tidak ada yang bisa mengeluarkan tulang tersebut, akhirnya Burung Hantu menyarankan agar pergi ke Burung Bangau agar tulang yang menyangkut di tenggorokannya bisa diambil dengan paruhnya yang panjang (red: kenapa harus Burung Hantu ya… yang selalu dianggap tahu segalanya).Maka pergilah Srigala menemui Burung Bangau, saat sudah bertemu Srigala berkata: “Wah… hai Bur..rung Bang..gau ya…ng rup…pawan, tol…long ak…ku, tol…long am…bilkan tul…lang ya…ng men…nyak…kut di… teng…gor…rok…kan…ku”, katanya sambil terbata-bata kerena rasa sakit ditenggorokan (red: duh kasihannya).Burung Bangau pun menjawab :” Tidak, pasti nanti setelah aku mengambil tulang yang menyangkut ditenggorokanmu, kau pasti akan memakanku?”.Srigala tersebut berkata: “Ti…idak ak…ku ti…idak a…kan me…mak…kan…mu, tet…ta…pi bil…la nan…nti su…dah sem…buh ak…ku ak…kan me…mber…ri…mu had…di…ah, in…ni jan…nji…ku”.“Benar apa yang kau katakana?” Tanya Bangau, karena menahan sakit maka Srigala tersebut hanya menganguk-angguk tanda setuju.“Kau tidak bohongkan?” Tanya Bangau lagi, Srigalapun menganguk-angguk.“Baik akan aku ambil tulang yang menyangkut di tenggorokanmu, tapi ingat akan janjimu yack?” kata Bangau lagi, dan untuk kesekian kali Srigala hanya bisa menganguk-anguk saja.Kemudian Bangau pun mengambil tulang yang menyangkut di tenggorokan Srigala tersebut dengan paruhnya yang panjang, setelah terbebas dari tulang tersebut maka pergilah Srigala tersebut tanpa bilang apa-apa.Bangau pun berkata: “Srigala Lupakah kau akan janjimu?”Srigala tersebut menoleh sambil berkata: “Aku sudah mengampuni nyawamu, aku tidak akan memakanmu hari ini, apakah itu bukan hadiah terindah untuk mu?”

Raksasa Ganti Menu Makan

Alkisah disebuah desa pada jaman dahulu, hiduplah satu Raksasa (“Buto” dalam Bahasa Jawa). Raksasa ini adalah jenis pemakan daging (Hewan maupun Manusia). Penduduk yang tinggal di desa tersebut sangatlah takut, karena bila Raksasa tersebut lapar, maka ia akan makan daging apapun yang dilihatnya, tak terkecuali Manusia. Penduduk yang tinggal di desa tersebut akhirnya meminta bantuan Resi (Petapa Sakti), yang kebetulan sedang singgah di desa. Resi tersebut menanyakan pada Penduduk akan dia Apakan Raksasa ini? Resi tersebut bisa melakukan apapun, kecuali membunuh. Maka Penduduk meminta kepada Resi untuk mengubah selera makan dari Raksasa, agar tidak makan daging lagi. Maka pergilah Sang Resi menemui Raksasa.Beberapa jam kemudian, Resi tersebut kembali ke desa dengan senyum, semua Penduduk desa menantinya dengan berharap-harap cemas. Setelah bertemu dengan Resi maka Penduduk mulai bertanya, bagaimana dengan Raksasa? Dan Resi menjawab bahwa sekarang Raksasa tidak makan daging lagi tetapi makan tumbuhan. Mendengar hal tersebut bersoraklah Penduduk serta mengeluh-eluhkan Sang Resi. Karena Resi hanya sekedar singgah di desa maka dia langsung pamit untuk melanjutkan perjalanan ke desa lain, kepergian Resi tersebut diiringi dengan tepuk tangan dan sorak sarai Penduduk.Beberapa hari kemudian terlihatlah Hutan Gundul…Bukan karena penebangan liar atau kebakaran hutan, tetapi karena pohon dimakan oleh Raksasa.Sekarang Penduduk mulai was-was, karena Hutan Gundul dapat menyebabkan banjir saat musim penghujan.(Sumber: Berbagai Buku)