12 Januari 2014

Antioksidan beberapa Makanan

Dalam masyarakat saat ini antioksidan menjadi topik yang menarik. Hal tersebut dikarenakan antioksidan alami mampu melindungi tubuh terhadap kerusakan yang disebabkan oleh oksigen reaktif. Buah dan sayur yang sering dikatakan memiliki antioksidan yang tinggi, begitu pula dengan teh, oleh karena itu sekarang banyak bermunculan iklan yang memberikan garansi antioksidan pada makanan. Untuk mengetahui seberapa besar tingkat aktivitas antioksidan pada berbagai jenis bahan pangan seperti teh hijau, teh hitam, apel dengan kulit, apel tanpa kulit, terong ungu dengan kulit dan terong hijau dengan kulit maka diperlukan pengujian antioksidan. 

Aktivitas Antioksidan
Radikal bebas dan reactive oxygen species (ROS) dapat bereaksi dengan lipid, protein, gula, dan asam nukleat, menyebabkan inaktivasi enzim, perubahan materi genetik dan kerusakan jaringan, dengan adanya peningkatan radikal bebas dan ROS tersebut maka dapat menyebabkan ganguan kesehatan (Duda-Chodak, et. al, 2011). Untuk mengurangi hal tersebut maka diperlukan asupan antioksidan dalam makanan atau minuman yang dikonsumsi. efisien radikal bebas dapat ditekan dengan adanya antioksidan seperti senyawa-senyawa polifenol dan beberapa vitamin, seperti asam askorbat, tokoferol, karotenoid dan retinol. 

Antioksidan dalam makanan berbeda kadarnya. Dalam pengukuran antioksidan ada beberapa cara yang dapat dipakai. Menurut Mermelstein (2011) ada beberapa uji yang dapat dilakukan untuk mengetahui aktivitas antioksidan diantaranya: ORAC (Oxygen Radical Absorbance Capacity), TRAP (Total Radical-Trapping Antioxidant Parameter), TEAC (Trolox Equivalent Antioxi­dant Capacity), DPPH, TOSC (Total Oxyradical Scavenging Capacity), PSC (Peroxyl Radical Scaveng­ing Capacity), FRAP (Ferric Reducing/Anti­oxidant Power) dan Folin-Ciocalteau Total Phenolic Assay 

Teh
Teh merupakan minuman yang mempunyai aktivitas antioksidan. jenis antioksidan yang ada didalam teh adalah katekin. Katekin yang terdapat dalam teh berupa epi-catechin (EC), epigallo-catechin (EGC), epicatechin gallate (ECG), epigallo-catechin gallate (EGCG), dan phenolic acid berupa gallic acid (GA) (Zou et al., 2001). Ada empat macam teh yang ada di dunia, yaitu teh hijau, teh hitam, teh oolong dan teh putih. Menurut Karori, et. al. (2007) jenis teh tersebut berdasarkan pengolahan yang dilakukan dalam pengolahan daun teh, perbedaan proses pengolahan tersebut juga menetukan prosentase aktivitas antioksidan yang terkandung dalam teh. 

Apel
Menurut Boyer and Liu (2004) Apel mengandung aktivitas antioksidan yang besar, apel mengandung flavonoid dalam jumlah yang besar, dan phytochemical. Komponen antioksidan dalam apel diantaranya quercetin-3-galactoside, quercetin-3-glucoside, quercetin-3-rhamnoside, catechin, epicatechin, procyanidin, cyanidin-3-galactoside, coumaric acid, chlorogenic acid, gallic acid dan phloridzin. 

Terong
Terong merupakan sayuran yang dapat menghambat oksigen reaktif kerena terong mempunyai senyawa fenolik, warna buah terong yang merah ke ungu-unguan mengandung antocianin (Jung et. al., 2011). Ada dua jenis terong yaitu terung ungu dan terong hijau. 

Metode Analisa

Alat
Alat yang digunakan adalah gelas ukur, tabung reaksi, labu takar, kertas saring, timbangan analitik, mikropipet, shaker dan spektrofotometer. 

Bahan
Bahan yang digunakan adalah seduhan teh hijau (1 tea-bag dalam 100 ml), seduhan teh hitam (1 tea-bag dalam 100 ml), apel dengan kulit, apel tanpa kulit, terong ungu dengan kulit, terong hijau dengan kulit, methanol 80% dan larutan DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) 6 x 10-5 mol/liter. 

Metode
Sampel dihaluskan dan ditimbang sebanyak 0,5 gram, lalu diekstrak menggunakan 5 ml methanol 80% selama 2 jam. Selama ekstraksi, sampel ditempatkan pada shaker. Sampel disaring menggunakan kertas saring. Ekstrak diambil sebanyak 0,1 ml dan direaksikan menggunakan 3,9 ml larutan DPPH lalu disimpan dalam ruang gelap selama 30 menit sambil dikocok menggunakan shaker. Sampel kemudian diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 517 nm dengan methanol sebagai blanko. Perlakuan ini dilakukan sebanyak 3 kali ulangan untuk tiap sampel. Aktivitas antioksidan dihitung menggunakan rumus :
% inhibition =

 Hasil Analisa 
Hasil pengukuran tingkat aktivitas antioksidan pada teh hijau, teh hitam, apel dengan kulit, apel tanpa kulit, terung ungu dengan kulit dan terung hijau dengan kulit mengunakan metode DPPH dapat dilihat pada Tabel 1 dan Gambar 1.

Tabel 1. Tingkat aktivitas antioksidan pada beberapa sampel bahan makanan.
Sampel
Ulangan
Absorbansi
%inhibition
Rata-rata %inhibition
Blanko

0.551
0.00%

Teh Hijau
1
0.0278
94.95%
95.20%
2
0.0293
94.68%
3
0.0222
95.97%
Teh hitam
1
0.0397
92.79%
92.84%
2
0.0375
93.19%
3
0.0411
92.54%
Apel dengan kulit
1
0.1127
79.55%
81.21%
2
0.0879
84.05%
3
0.11
80.04%
Apel tanpa kulit
1
0.2532
54.05%
48.41%
2
0.3672
33.36%
3
0.2324
57.82%
Terong Ungu
1
0.3113
43.50%
36.50%
2
0.3805
30.94%
3
0.3578
35.06%
Terong Hijau
1
0.2832
48.60%
66.19%
2
0.1052
80.91%
3
0.1704
69.07%


 
 Gambar 1. Aktivitas Antioksidan

Pembahasan
Pada tabel 1 dan Gambar 1 dapat terlihat bahwa aktivitas antioksidan paling tinggi ditunjukakan oleh teh hijau di ikuti oleh teh hitam. Seduhan teh hijau memiliki aktivitas antioksidan sebesar 95,20% sedangkan teh hitam sebesar 92,84%. Aktivitas antioksidan pada teh dipengaruhi oleh kandungan polifenol dalam teh. Perbedaan presentase aktivitas antioksidan antara teh hijau dan teh hitam berbeda karena kedua tersebut mengalami proses pengolahan yang berbeda.

Menurut karori et. al. (2007) komposisi polifenol dalam teh secara spesifik katekin dalam teh hijau lebih dari pada teh hitam, hal tesebut dikarenakan metode pengolahan dalam teh hijau dan teh hitam yang berbeda, teh hitam yang dalam prosesnya menggunakan fermentasi membuat reaksi auto-oksidasi yang dikatalis oleh enzim polifenol oksidase, sedangkan teh hijau yang hanya mengalami steam sehingga menonaktifkan oksidasi dan membuat katekin dalam teh hijau tidak tereduksi. Hal tersebut yang membuat aktivitas antioksidan dari teh hijau lebih banyak dari pada teh hitam. 

Hasil analisa untuk aktivitas antioksidan pada buah apel dengan kulit dan tanpa kulit terlihat bahwa apel dengan kulit memiliki aktivitas antioksidan sebesar 81,21% lebih banyak dari pada apel yang tanpa kulit yaitu sebesar 48,41%. Hal tersebut membuktikan bahwa antioksidan dalam buah apel lebih banyak berada dalam kulit buah.

Wolfe et. al. (2003) menyatakan bahwa kadar fenol dalam kulit apel lebih tinggi daripada daging apel. Dalam daging apel mengandung katekin, procyanidin, phloridzin, phloretin glycosides,caffeic acid, and chlorogenic acid, sedangkan dalam kulitapel memiliki semua senyawa tersebut ditambah dengan quercetin glycosides dan katekin dalam bentuk epikatekin jumlahnya dua kali lebih lipat ada dalam kulit. Dalam penelitan yang dilakukan Duda-Chodak et. al.(2011) memperkuat bahwa procyanidin, phloridzin, chlorogenic acid predominated lebih banyak berada dikulit apel dari pada daging buah apel.

Untuk analisa aktivitas antioksidan dari terong ungu dan terong hijau, semuanya memakai kulit dalam pengujiannya. Hasil analisa diperoleh bahwa aktivitas antioksidan dari terong ungu sebesar 36,50% sebih kecil dari pada terong hijau sebesar 66,19%. Hal ini berbeda dengan Einbond et al.(2004) yang menyatakan bahwa antosianin memegang peranan penting pada aktivitas antioksidan pada berbagai bahan pangan yang berwarna ungu. Sebagai pigmen, antosianin memberikan penampakan warna merah, biru dan ungu. Senyawa 3-glukosida merupakan senyawa antosianin yang paling aktif sebagai antioksidan. 

Jung et. al. (2011) juga menyatakan bahwa senyawa fenolik dari buah yang berwarna merah ke ungu-unguan mengandung antocianin. Aktivitas antioksidan terong ungu yang lebih kecil daripada terong hijau, ada kemungkinan antosianin yang berada dalam terong ungu telah rusak atau hilang. Laleh et. al. (2006) melakukan penelitian mengenai kerusakan antosianin yang menunjukkan bahwa peningkatan pH, suhu, dan paparan cahaya dapat merusak molekul antosianin. Salah satu karakteristik utama antosianin adalah perubahan warna yang merespon adanya perubahan pH lingkungan. Warna dan stabilitas antosianin pada larutan sangat tergantung pada pH. Antosianin paling stabil pada pH rendah dan perlahan kehilangan warnanya seiring dengan peningkatan pH dan menjadi hampir tak berwarna pada pH 4,0 sampai 5,0. Dari hasil analisa yang dilakukan praktikan menunjukan aktivitas antioksidan terong ungu paling rendah diantara bahan pangan yang lain, padahal terong ungu mempunyai senyawa antioksidan sebagai antioksidan, hal ini diduga oleh praktikan karena saat penghancuran bahan terjadi perubahan pH dalam bahan yang akhirnya antioksidan menjadi rusak.

Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan terdapat beberapa kesimpulan yaitu:

1. Aktivitas antioksidan yang paling tinggi adalah Teh hijau (95,20%), sedangkan aktivitas antioksidan yang paling rendah adalah terong ungu (36,50%).

2. Proses pengolahan bahan pangan juga mempengaruhi aktivitas antioksidan, dapat terlihat dari perbedaan aktivitas antioksidan antara teh hijau (95,20%) dan teh hitam (92,84%).

3. Pada buah apel dapat terlihat bahwa antioksidan terbanyak berada dalam kulit buah apel (81,21%) dari pada hanya daging buah saja (48,41%).

4. Meskipun antosianin dari terong unggu lebih banyak dari terong hijau tetapi aktivitas antioksidan terong hijau (66,19%) lebih banyak daripada terong ungu (36,50%), hal ini kemungkinan karena antosianin rusak dalam proses penghancuran.

Daftar Pustaka
Boyer, Jeanelle and Liu, Rui Hai. 2004. Antioxidants Of Apples. New York Fruit Quarterly • Volume 11 Number 4 • 2003-2004. 11-15
Duda-Chodak, Aleksandra; Tarko, Tomasz; Tuszynski, Tadeusz. 2011. Antioxidant activity of apples – an impact of maturity stage and fruit part. Acta Sci. Pol., Technol. Aliment. 10(4) 2011, 443-454
Einbond, L.S; K.A. Reynertson; X.D. Luo; M.J. Basile and E.J. Kennelly. (2004). Anthocyanin Antioxidants From Edible Fruits. Food Chemistry 84 (2004) 23-28
Jung, Eun-Ju; Bae, Myung-Suk; Jo, Eun-Kyung; Jo, Young-Hong and Lee, Seung-Cheol. (2011) Antioxidant activity of different parts of eggplant. Journal of Medicinal Plants Research Vol. 5(18) pp. 4610-4615
Karori, S.M, Wachira, F. N, Wanyoko, J.k and Ngure, R. M. 2007. Antioxidant Capacitiy of Different Type of Tea Products. African journal of Biotechnology, Vol 6: 2287-2296
Laleh, G H; Frydoonfar, H; Heidary, R; Jameei, R  and Zare, S. 2006  The Effect of Light, Temperature, pH and Species on Stability of Anthocyanin Pigments in Four Berberis Species. Pakistan Journal of Nutrition 5 (1): 90-92
Mermelstein, Neil H. 2011. Determining Antioxidant Activity . foodtechnology. 63-66
Wolfe, Kelly; Wu, Xianzhong and Liu, Rui Hai Liu. 2003. Antioxidant Activity of Apple Peels. J. Agric. Food Chem. 2003, 51, 609-614
Zuo Y, Hao Chen, Yiwei Deng. 2001. Simultaneous Determination Of Catechins, Caffeine, And Gallic Acids In Green, Oolong, Black, And Pu-Erh Teas Using HPLC With A Photodiode Array Detector. Talanta, 57:307-316 

Tidak ada komentar: