Teh (Camellia sinensis) merupakan tanaman
perdu yang bercabang-cabang dan berbatang bulat. Daun teh berbentuk jorong
dengan tepi bergerigi. Helaian daunnya berwarna hijau dan mengkilap. Bunga teh
berwarna putih yang berada di ketiak daun dengan aroma harum. Buahnya berbentuk
bulat. Pada saat masih muda, buah berwarna hijau lalu berubah coklat saat sudah
masak (Mursito 2004 dalam Ananda, 2009). Teh mengandung senyawa antioksidan,
jenis antioksidan yang ada didalam teh adalah katekin. Katekin yang terdapat
dalam teh berupa epi-catechin (EC), epigallo-catechin (EGC), epicatechin
gallate (ECG), epigallo-catechin gallate (EGCG), dan phenolic
acid berupa gallic acid (GA). Teh juga mengandung kafein (CA), suatu
alkaloid yang juga terkandung dalam beberapa jenis minuman lain seperti kopi
(Zou et al., 2001). EGCG adalah
yang paling kuat, 100 kali vitamin C dan 25 kali vitamin E. Polyphenol yang
mudah larut dalam air ini termasuk gugusan kelompok flavonoid yang biasanya
terdapat dalam buah-buahan, sayuran, kopi, coklat dan anggur (dani, 2010).
Polyphenoloksidasi ini terbentuk akibat pengolahan daun teh. Dengan perlakuan
pengolahan daun teh yang berbeda maka akan menjadikan kadar katekin dalam teh
tersebut berbeda satu dengan yang lain. Teh yang ada di dunia ini ada empat
macam, yaitu teh hijau, teh hitam, teh oolong dan teh putih.
Menurut Karori, et all 2007
dalam memproses teh hijau daun yang
dipetik segera dilayukan dengan uap panas dan
kemudian dikeringkan secara cepat, hal ini meminimalkan reaksi kimia dan
reaksi enzimatik. Sebaliknya, dalam pengolahan
teh hitam, memang dibutuhkan fermentasi. Reaksi ini memungkinkan katekin
teroksidasi dan membentuk thea-flavin
(TF). TF memberikan warna merah kuning pada
fermentasi teh hitam. Proses teh oolong adalah
semi-fermentasi terdiri dari pelayuan dengan matahari, penggulungan dan pengeringan.
Teh
putih diproses secara alami dan minimal yaitu hanya melalui pelayuan dan
pengeringan dengan bantuan angin dan sinar matahari segera setelah proses
pemetikan dilakukan, tanpa mengalami proses oksidasi/fermentasi maupun
penggilingan sehingga tidak merusak bentuk teh yang sebenarnya.
Menurut karori, et all 2007 cara untuk menetukan
kandungan katekin dalam teh sebagai berikut: siapkan dua belas sampel teh; delapan teh
Kenya komersial yang terdiri dari fermentasi (Teh Hitam), semi fermentasi (Teh
oolong), non-fermentasi (Teh Hijau) dan Teh Putih dari pabrik teh yang berbeda
di Kenya serta dua dari setiap Teh Hijau Jepang dan
Cina. Sampel tersebut telah diproduksi di pabrik secara komersial menggunakan manufaktur
standar. Teh hitam telah diproduksi dengan cara pelayuan hingga kadar airnya 50
- 65% selama 18 jam, difermentasi pada
24oC selama 1 - 2 jam dan penghembusan udara panas pada suhu 120oC
selama 20-25 menit. Teh oolong diolah dengan pelayuan menggunakan siunar
matahari di tempat terbuka selama 30 – 60 menit, kemudian dilayukan di dalam
Ruangan pada suhu kamar dengan selama 6 - 8 jam, kemudian digulung dan terakhir
penghembusan udara panas pada suhu 100oC selama sekitar 30 menit.
Teh hijau diproduksi dengan cara steam selama 1 jam dan kemudian penghembusan
udara panas pada suhu 120oC selama 20-25 menit. Teh putih telah dipetik
kemudian di steam secara parsial dan pengeringan di bawah sinar matahari.
Sebelum dianalisis dilakukan dahulu uji pendahuluan sesuai jumlah sampel untuk
memastikan bahwa sampel belum rusak atau hancur selama transportasi. Analisis biokimia
dilakukan dalam rangkap dua.
Analisa Polifenol dan Katekin
Sampel teh dicincang dan ditumbuk menjadi bubuk halus. Diambil 2 g setiap sampel dilakukan pengeringan untuk penentuan berat kering dengan cara dioven pada suhu 103oC selama 16 jam. Dari jumlah tersebut, ditimbang sebanyak 0,2 ± 0,001 g kemudian dimasukkan kedalam tabung ekstraksi. Bahan diekstraksi dalam air panas sebanyak Lima milliliter dan metanol 70%. Kemudian tabung ekstraksi dipanaskan dalam water bath selama 10 menit dengan pencampuran dalam mixer vortex setelah setiap 5 menit. Kemudian Tabung ekstraksi dilepas dari water bath dan dibiarkan dingin. Tabung ditempatkan dalam centrifuge di 3500 rpm selama 10 menit. Hasil centrifuge dituangkan kedalam tabung dan dilakukan ekstrak ulang. Dilakukan kombinasi ekstrak dengan menambahkan campuran metanol dingin dan air sebanyak 10 ml. ambil satu mililiter ekstrak sampel kemudian pindahkan ke tabung dan diencerkan sampai 5 ml dengan larutan stabilizing (10% v / v acetonetrile dengan 500 mg / ml EDTA dan asam askorbat). Larutan kemudian disaring melalui 0,45 m membran nilon filter.ambil A 20 ml larutan aliquot kemudian diinjeksikan ke dalam HPLC untuk dianalisis.
Sampel teh dicincang dan ditumbuk menjadi bubuk halus. Diambil 2 g setiap sampel dilakukan pengeringan untuk penentuan berat kering dengan cara dioven pada suhu 103oC selama 16 jam. Dari jumlah tersebut, ditimbang sebanyak 0,2 ± 0,001 g kemudian dimasukkan kedalam tabung ekstraksi. Bahan diekstraksi dalam air panas sebanyak Lima milliliter dan metanol 70%. Kemudian tabung ekstraksi dipanaskan dalam water bath selama 10 menit dengan pencampuran dalam mixer vortex setelah setiap 5 menit. Kemudian Tabung ekstraksi dilepas dari water bath dan dibiarkan dingin. Tabung ditempatkan dalam centrifuge di 3500 rpm selama 10 menit. Hasil centrifuge dituangkan kedalam tabung dan dilakukan ekstrak ulang. Dilakukan kombinasi ekstrak dengan menambahkan campuran metanol dingin dan air sebanyak 10 ml. ambil satu mililiter ekstrak sampel kemudian pindahkan ke tabung dan diencerkan sampai 5 ml dengan larutan stabilizing (10% v / v acetonetrile dengan 500 mg / ml EDTA dan asam askorbat). Larutan kemudian disaring melalui 0,45 m membran nilon filter.ambil A 20 ml larutan aliquot kemudian diinjeksikan ke dalam HPLC untuk dianalisis.
Analisis Katekin mengunakan HPLC
Mengunakan metode dari Zuo et al. (2002) yang telah dimodifikasi. Untuk analisis sampel ini mengunakan A Shimadzu LC 20 AT HPLC fitted dengan a SIL 20A auto sampler dan a SPD-20 UVVisible detector with a class LC 10 chromatography workstation. Kolom yang digunakan adalah A Luna TM 5 M C18, 25 cm x 4,6 id (Phenomenex, Torrance, CA, USA) dengan model Reodyne precolumn filter 7335. Semua pelarut disaring melalui 0.45 μm millipore membrane filter disk dan and menghilangkan gas sebelum diinjeksikan kedalam a HPLC system. Agar tercipta gambaran gradient diperlukan pelarut: pelarut A (asetonitril / asam asetat / aquades 9/2/89 v / v / v), Pelarut B (asetonitril / asam asetat/ aquades - 80/2/18 v / v / v). selama 10 menitpelarut A akan mencapai 100% pergerakan fase ke gradient binerkemudian setelah 15 menit akan menuju gradient linear sebesar 60%, fase B akan mencapai 32% setelah 10 menit. Kondisi ini akan berulang 100% pada fase A dan seimbang selama 10 menit sebelum injeksi berikutnya. Rata-rata pergerakan fase tersebut adalah 1 ml/ min and the temperature at the column was performed at 35 ± 0.5oC. Laju aliran fase gerak adalah 1 ml / menit dan suhu pada kolom dilakukan pada 35 ± 0,5oC. identifikasi dari masing-masing katekin dengan cara membandingkan rentang waktu dan UV-absorbansi tertinggi dengan campuran larutan standart pada waktu yang sama. Untuk mengetahui kualifikasi katein digunakan pada 278nm dan menguunakan standar kafein dengan kalibrasi kurva R2 = 0.9984 dengan respon relitif katekin (RRF) nilai tersebut berhubngan dengan kafein pada berat kering. Presentase Total katekin pada berat kering adalah penjumlahan masing-masing jenis katekin. % Total katekin = [% EKG + (% + C) + (% EC) +% EGCG +% EKG]
konten.
Mengunakan metode dari Zuo et al. (2002) yang telah dimodifikasi. Untuk analisis sampel ini mengunakan A Shimadzu LC 20 AT HPLC fitted dengan a SIL 20A auto sampler dan a SPD-20 UVVisible detector with a class LC 10 chromatography workstation. Kolom yang digunakan adalah A Luna TM 5 M C18, 25 cm x 4,6 id (Phenomenex, Torrance, CA, USA) dengan model Reodyne precolumn filter 7335. Semua pelarut disaring melalui 0.45 μm millipore membrane filter disk dan and menghilangkan gas sebelum diinjeksikan kedalam a HPLC system. Agar tercipta gambaran gradient diperlukan pelarut: pelarut A (asetonitril / asam asetat / aquades 9/2/89 v / v / v), Pelarut B (asetonitril / asam asetat/ aquades - 80/2/18 v / v / v). selama 10 menitpelarut A akan mencapai 100% pergerakan fase ke gradient binerkemudian setelah 15 menit akan menuju gradient linear sebesar 60%, fase B akan mencapai 32% setelah 10 menit. Kondisi ini akan berulang 100% pada fase A dan seimbang selama 10 menit sebelum injeksi berikutnya. Rata-rata pergerakan fase tersebut adalah 1 ml/ min and the temperature at the column was performed at 35 ± 0.5oC. Laju aliran fase gerak adalah 1 ml / menit dan suhu pada kolom dilakukan pada 35 ± 0,5oC. identifikasi dari masing-masing katekin dengan cara membandingkan rentang waktu dan UV-absorbansi tertinggi dengan campuran larutan standart pada waktu yang sama. Untuk mengetahui kualifikasi katein digunakan pada 278nm dan menguunakan standar kafein dengan kalibrasi kurva R2 = 0.9984 dengan respon relitif katekin (RRF) nilai tersebut berhubngan dengan kafein pada berat kering. Presentase Total katekin pada berat kering adalah penjumlahan masing-masing jenis katekin. % Total katekin = [% EKG + (% + C) + (% EC) +% EGCG +% EKG]
konten.
Penentuan Total Polifenol
Untuk menentukan total polifenol digunakan Metode reagen Folin-Ciocalteu seperti yang dijelaskan oleh Pourmorad et al. (2006). Encerkan masing-masik ekstrak (0,5 ml 1:10 g ml-1) atau asam galat (senyawa fenolik standar) dicampur dengan Folin Ciocalteu reagent (5 ml, 1:10 diencerkan dengan aquades) dan aqueous Na2CO3 (4 ml, 1 M). diamkan campuran selama 15 menit dan total fenol ditentukan dengan colorimetry pada 765 nm. Kurva standar dibuat dengan menggunakan 0, 50, 100, 150, 200, 250 mg L-1 larutan asam galat dalam metanol : Air (50:50, v / v). Nilai total fenol yang dinyatakan dalam ekuivalen asam galat (mg g -1 massa kering).
Untuk menentukan total polifenol digunakan Metode reagen Folin-Ciocalteu seperti yang dijelaskan oleh Pourmorad et al. (2006). Encerkan masing-masik ekstrak (0,5 ml 1:10 g ml-1) atau asam galat (senyawa fenolik standar) dicampur dengan Folin Ciocalteu reagent (5 ml, 1:10 diencerkan dengan aquades) dan aqueous Na2CO3 (4 ml, 1 M). diamkan campuran selama 15 menit dan total fenol ditentukan dengan colorimetry pada 765 nm. Kurva standar dibuat dengan menggunakan 0, 50, 100, 150, 200, 250 mg L-1 larutan asam galat dalam metanol : Air (50:50, v / v). Nilai total fenol yang dinyatakan dalam ekuivalen asam galat (mg g -1 massa kering).
Total Theaflavins (TF) content analysis/flavognost
Total TF were determined by the flavognost method of Hilton (1973).
Total TF were determined by the flavognost method of Hilton (1973).
Specrophotometric
measurement of total Thearubigins (TR)
Total thearubigins were determined using the method of Roberts and Smith (1961).
Total thearubigins were determined using the method of Roberts and Smith (1961).
Penentuan
aktivitas Radikal bebas
Penentuan radikal bebas ekstrak teh memakai metode dari Brand-Williams et al. (1995) yang sudah dimodifikasi dengan mengunakan 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl radical (DPPH). Larutkan 5 g teh dalam 100 ml aquades mendidih sambil diaduk dengan pengaduk magnetik dan biarkan selama 30 menit pada suhu kamar. Masukan ekstrak teh melalui nylon mesh (120 m) mengunakan kertas saring. Aliquots dari ekstrak tersebut disimpan beku (-1oC) sampai nanti dianalisa lebih lanjut. Ekstrak padatan terlarut digunakan sebagai padatan standar untuk 50 mg padatan terlarut per 100 ml 50% metanol. Methanolicsolution (50 μl) dari antioksidan ditempatkan di kuvet dan 6.0 x 10 - 5 M larutan methanol DPPH (2 ml) ditambahkan (DPPH solution mengunakan metanol 80 %). Penurunan absorbance pada 517 nm ditentukan menggunakan spektofotometer CE 393 sampai absorbance stabil. Pembacaan dilakukan dengan interval 15 atau 30 menit. Solution DPPH dipersiapkan dan disimpan ditempat gelap untuk meminimalkan kehilangan radikal bebas. Hal ini dilakukan dalam dua ulangan.
% Inhibition against DPPH = [(AB-AA) / AB] x100
Dimana AB adalah absorbansi dari blank sample (50 μl double aquades and 2 ml DPPH) dan AA adalah absorbance sampel yang diuji setelah 15 menit.
Penentuan radikal bebas ekstrak teh memakai metode dari Brand-Williams et al. (1995) yang sudah dimodifikasi dengan mengunakan 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl radical (DPPH). Larutkan 5 g teh dalam 100 ml aquades mendidih sambil diaduk dengan pengaduk magnetik dan biarkan selama 30 menit pada suhu kamar. Masukan ekstrak teh melalui nylon mesh (120 m) mengunakan kertas saring. Aliquots dari ekstrak tersebut disimpan beku (-1oC) sampai nanti dianalisa lebih lanjut. Ekstrak padatan terlarut digunakan sebagai padatan standar untuk 50 mg padatan terlarut per 100 ml 50% metanol. Methanolicsolution (50 μl) dari antioksidan ditempatkan di kuvet dan 6.0 x 10 - 5 M larutan methanol DPPH (2 ml) ditambahkan (DPPH solution mengunakan metanol 80 %). Penurunan absorbance pada 517 nm ditentukan menggunakan spektofotometer CE 393 sampai absorbance stabil. Pembacaan dilakukan dengan interval 15 atau 30 menit. Solution DPPH dipersiapkan dan disimpan ditempat gelap untuk meminimalkan kehilangan radikal bebas. Hal ini dilakukan dalam dua ulangan.
% Inhibition against DPPH = [(AB-AA) / AB] x100
Dimana AB adalah absorbansi dari blank sample (50 μl double aquades and 2 ml DPPH) dan AA adalah absorbance sampel yang diuji setelah 15 menit.
Hasil Analisa
Dari hasil analisa yang dilakukan oleh karori et all (2007) diperoleh hasil terbaik diperoleh dari penyulingan ganda asam air-asetonitril-asetat pada perputaran rata-rata 1 ml / menit yang memungkinkan pemisahan katekin dalam waktu 18 menit. The Luna TM Phenomenex column dipilih karena dapat memisahkan katekin dalam waktu singkat. Katekin utama yang diperoleh dalam waktu retensi mereka serapan spektrum UV 278 nm adalah sebagai berikut: EGC (8.1), + C (10.2), kafein (13.5), EC (14,8), EGCG (16,4), EKG (21,7), GC (6.1) dan GA (4.3). Total kandungan katekin secara signifikan lebih tinggi (tingkat kepercayaan lebih besar dari 0,05) dalam teh hijau dibandingkan teh oolong dan teh hitam sebagai ditunjukkan pada Tabel 1. Ini menunjukkan bahwa fermentasi selama proses memiliki pengaruh pada katekin dari produk akhir. Teh hitam yang merupakan hasil fermentasi pasca panen teh membuat reaksi auto-oksidasi dikatalisis oleh oksidase enzim polifenol, sedangkan teh hijau yang disteam membuat menonaktifkan oksidasi. Teh oolong diperoleh oleh oksidasi parsial daun, proses tengah antara pembuatan teh hijau dan teh hitam. Teh putih merupakan produk parsial steam dan pengeringan matahari.
Teh putih yang dominan diproduksi dari muda tunas menunjukkan jumlah EGCG dan EKG lebih tinggi dari daun segar. Hasil yang terakhir ini menguatkan hasilnya dengan Saijo et al. (2004) yang menentukan kandungan kimia daun teh muda dan perubahan yang terjadi selama pengembangan daun. Penurunan asam galat ester dari katekin seperti EGCG dan ECG selama daun pembangunan berarti bahwa ada biosintesis asam galat di setiap gallate katekin dibandingkan dengan produksi bahan kering. Penggulungan dan pemotongan teh menyebabkan pelepasan polifenol oksidase yang berinteraksi dengan senyawa fenolik, satu katekin sederhana dan satu gallokatekin menghasilkan theaflavin dan thearubigins. Trihydroxylflavan-3-ols yang teroksidasi lebih cepat selama fase fermentasi teh hitam menjelaskan bahwa EGCG dan EGC dalam teh hijau masi tinggi dan mengalami penurunan dalam teh hitam. Theaflavin lebih lanjut teroksidasi membentuk thearubigins yang heterogen di alam dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap rasa, warna. Teh hitam karena memiliki tingkat tinggi TF dan TRS yang merupakan produk fermentasi utama. Dalam teh hijau, TRS dibentuk dengan tingkat TF rendah tidak seperti dalam teh hitam. Hal ini mungkin menunjukkan bahwa theaflavin bukan satu-satunya sumber thearubigins.
Secara keseluruhan, teh hijau dan putih memiliki aktivitas antioksidan secara signifikan (tingkat kepercayaan lebih besar dari 0,05) lebih tinggi dibandingkan teh hitam. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kapasitas antioksidan teh hitam diproduksi menggunakan ortodoks dan metode non-ortodoks. Teh Oolong (semifermented) antara hijau dan teh hitam tidak mengandung tinggi kadar antioksidan utama gallocatechins dan juga belum mengandung jumlah besar theaflavin dan thearubigins yang ditemukan di sepenuhnya fermentasi teh hitam. Penelitian ini mengungkapkan bahwa produk teh Kenya lebih baik yang berwarna hijau dan hitam yang kaya polifenol total. Teh Jepang dan China yang secara tradisional digunakan untuk pembuatan teh hijau dipilih untuk menjadi rendah astringency dan kepahitan dan akibatnya rendah total polifenol. Perbandingan aktivitas antioksidan teh dan sayuran seperti bayam dan bawang menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan teh berbeda secara signifikan (tingkat kepercayaan lebih besar sari 0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan sayuran segar, yang menunjukkan potensi teh sebagai berpotensi meningkatkan kesehatan makanan.
Dari hasil analisa yang dilakukan oleh karori et all (2007) diperoleh hasil terbaik diperoleh dari penyulingan ganda asam air-asetonitril-asetat pada perputaran rata-rata 1 ml / menit yang memungkinkan pemisahan katekin dalam waktu 18 menit. The Luna TM Phenomenex column dipilih karena dapat memisahkan katekin dalam waktu singkat. Katekin utama yang diperoleh dalam waktu retensi mereka serapan spektrum UV 278 nm adalah sebagai berikut: EGC (8.1), + C (10.2), kafein (13.5), EC (14,8), EGCG (16,4), EKG (21,7), GC (6.1) dan GA (4.3). Total kandungan katekin secara signifikan lebih tinggi (tingkat kepercayaan lebih besar dari 0,05) dalam teh hijau dibandingkan teh oolong dan teh hitam sebagai ditunjukkan pada Tabel 1. Ini menunjukkan bahwa fermentasi selama proses memiliki pengaruh pada katekin dari produk akhir. Teh hitam yang merupakan hasil fermentasi pasca panen teh membuat reaksi auto-oksidasi dikatalisis oleh oksidase enzim polifenol, sedangkan teh hijau yang disteam membuat menonaktifkan oksidasi. Teh oolong diperoleh oleh oksidasi parsial daun, proses tengah antara pembuatan teh hijau dan teh hitam. Teh putih merupakan produk parsial steam dan pengeringan matahari.
Teh putih yang dominan diproduksi dari muda tunas menunjukkan jumlah EGCG dan EKG lebih tinggi dari daun segar. Hasil yang terakhir ini menguatkan hasilnya dengan Saijo et al. (2004) yang menentukan kandungan kimia daun teh muda dan perubahan yang terjadi selama pengembangan daun. Penurunan asam galat ester dari katekin seperti EGCG dan ECG selama daun pembangunan berarti bahwa ada biosintesis asam galat di setiap gallate katekin dibandingkan dengan produksi bahan kering. Penggulungan dan pemotongan teh menyebabkan pelepasan polifenol oksidase yang berinteraksi dengan senyawa fenolik, satu katekin sederhana dan satu gallokatekin menghasilkan theaflavin dan thearubigins. Trihydroxylflavan-3-ols yang teroksidasi lebih cepat selama fase fermentasi teh hitam menjelaskan bahwa EGCG dan EGC dalam teh hijau masi tinggi dan mengalami penurunan dalam teh hitam. Theaflavin lebih lanjut teroksidasi membentuk thearubigins yang heterogen di alam dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap rasa, warna. Teh hitam karena memiliki tingkat tinggi TF dan TRS yang merupakan produk fermentasi utama. Dalam teh hijau, TRS dibentuk dengan tingkat TF rendah tidak seperti dalam teh hitam. Hal ini mungkin menunjukkan bahwa theaflavin bukan satu-satunya sumber thearubigins.
Secara keseluruhan, teh hijau dan putih memiliki aktivitas antioksidan secara signifikan (tingkat kepercayaan lebih besar dari 0,05) lebih tinggi dibandingkan teh hitam. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kapasitas antioksidan teh hitam diproduksi menggunakan ortodoks dan metode non-ortodoks. Teh Oolong (semifermented) antara hijau dan teh hitam tidak mengandung tinggi kadar antioksidan utama gallocatechins dan juga belum mengandung jumlah besar theaflavin dan thearubigins yang ditemukan di sepenuhnya fermentasi teh hitam. Penelitian ini mengungkapkan bahwa produk teh Kenya lebih baik yang berwarna hijau dan hitam yang kaya polifenol total. Teh Jepang dan China yang secara tradisional digunakan untuk pembuatan teh hijau dipilih untuk menjadi rendah astringency dan kepahitan dan akibatnya rendah total polifenol. Perbandingan aktivitas antioksidan teh dan sayuran seperti bayam dan bawang menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan teh berbeda secara signifikan (tingkat kepercayaan lebih besar sari 0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan sayuran segar, yang menunjukkan potensi teh sebagai berpotensi meningkatkan kesehatan makanan.
Kesimpulan
Pengolahan yang berbeda menjadikan kadar katekin (Epikatekin/EC, Epigallokatekin/EGC, Epikatekin-3-galat/ECG, Epigallokatekin-3-galat/EGCG, Gallokatekin/GC, Gallokatekin-galat/GCG) serta Theaflavins/TF, Thearubigins/TR, berbeda antara teh hijau, teh hitam, teh oolong dan teh putih.
Pengolahan yang berbeda menjadikan kadar katekin (Epikatekin/EC, Epigallokatekin/EGC, Epikatekin-3-galat/ECG, Epigallokatekin-3-galat/EGCG, Gallokatekin/GC, Gallokatekin-galat/GCG) serta Theaflavins/TF, Thearubigins/TR, berbeda antara teh hijau, teh hitam, teh oolong dan teh putih.
Daftar
Pustaka
Ananda, Astri Dwi. 2009. Aktivitas Antioksidan Dan Karakteristik Organoleptik
Minuman Fungsional Teh Hijau (Camellia Sinensis) Rempah Instan. [Skripsi]. Bogor
: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor
Dani. 2010. Teh
Hijau, Khasiat dan Antioksidannya Menakjubkan. http://dani79.student.umm.ac.id/2010/07/29/teh-hijau-khasiat-dan-antioksidannya-menakjubkan
Karori, S.M,
Wachira, F. N, Wanyoko, J.k and Ngure, R. M. 2007. Antioxidant Capacitiy of
Different Type of Tea Products. African journal of Biotechnology, Vol
6: 2287-2296
Zuo Y, Hao Chen,
Yiwei Deng. 2001. Simultaneous
Determination Of Catechins, Caffeine, And Gallic Acids In Green, Oolong, Black,
And Pu-Erh Teas Using HPLC With A Photodiode Array Detector. Talanta,
57:307-316
Tidak ada komentar:
Posting Komentar